Pada saat itu, dolar AS mengalami pelemahan dalam indeksnya, terutama karena libur Labour Day yang mengakibatkan liburnya perdagangan forex Amerika. Namun, dolar AS masih menunjukkan kinerja yang mixed terhadap mata uang utama lainnya.
Dalam situasi ini, dolar AS sebagai safe-haven (aset aman) mengalami pelemahan karena adanya sentimen risiko yang membaik. Hal ini terkait dengan harapan bahwa stimulus kebijakan pemerintah China dapat membantu menstabilkan perekonomian mereka. China telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perekonomiannya yang sedang melemah dan melonggarkan pembatasan pembelian rumah.
Di sisi lain, data pekerjaan AS yang dirilis pekan lalu menghasilkan spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya. Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS yang meningkat pada bulan Agustus. Namun, tingkat pengangguran juga melonjak menjadi 3,8%, sementara kenaikan upah mengalami perlambatan.
Meskipun indeks dolar mengalami pelemahan sekitar 0,15% menjadi 104,08, dolar AS masih berada dekat dengan puncak dua bulan sebelumnya di 104,44 yang dicapai pada 25 Agustus. Ini menunjukkan bahwa kondisi pasar dan sentimen investor terhadap dolar AS tetap cermat dalam menghadapi berbagai faktor ekonomi dan politik global.
